This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 28 Maret 2013

korupsi

Siapa saja yang telah kami angkat untuk mengerjakan suatu pekerjaan/jabatan kemudian kami telah memberikan gaji, maka sesuatu yang diterima di luar gajinya yang sah adalah ghulul (korupsi)((HR. Bukhari))

Senin, 28 Januari 2013

Bapak Pendidikan Islam



BAPAK TAHDZIB IBNU MISKAWAIH
DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Abdul Majid Khon  [1]

Abstract :
The word “Tahdzib” that is made the tittle of some  books in sciences, means morals and religion education substantively. It indicates that morals and religion education were in so many sciences, either theorotics or  practices.  The mankind have two potentialities are knowing potentiality and doing potentiality that is  brought  since be born. Both of them  can change and expand according to education influence and its environment. According  to the mankind spirit power position that was in the middle of three spirit powers, are rational spirit, emotional spirit and lust spirit, they are  able to achieve superiority characteristic with their superiority of rational spirit. The superiority  characteristic  are the middle  characteristics  between  contradictive characteristics, among of them generous characteristic is between  squander and stingy, dare is between determined and afraid, atc. The achievement of this superiority  characteristics is the main purpose  at religion education, that is noble morals formation.

Kata konci :  Tahdzib, pendidikan Agama Islam

 

A.  Pendahuluan

Sebagaimana dimaklumi belakangan ini  di lingkungan Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan   Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayuatullah Jakarta kata Tahdzib menjadi sebuah nama Jurnal Jurusan PAI, yang baru lahir perdananya  6 bulan  lalu yakni awal tahun 2007 M/ 1428 H.  Tahdzib -- dalam arti harfiahnya adalah pendidikan agama Islam atau pendidikan akhlak --    sebenarnya  Tahdzib ini sudah dikenal sejak lama dalam dunia pendidikan bukan saja nama Jurnal baru tersebut. Ia telah dikenal sejak pendidikan agama Islam klasik yang pelopori oleh Ibn Miskawaih (421 H/1030 M) dalam bukunya yang berjudul “Tahdzîb al-Akhlâq wa Tathhîr al-A`râq”.
Tetapi sayangnya sosialisasi penggunaan kata Tahdzib (Bahasa Arab) dalam menunjujk makna pendidikan Islam kurang popular khususnya di Indonesia. Berbagai buku pendidikan agama Islam yang ditulis para ahli didik Islam yang beredar  sangat langka  menyebut kata Tahdzib. Mereka lebih suka menyebut “tarbiyah, ta`lîm dan ta’dîb dalam menunjuk pendidikan Islam ke dalam bahasa Arab katimbang kata tahdzîb ini.
Menurut mereka kata ta’lim untuk menunjuk makna pendidikan kurang tepat karena ia berarti pengajaran yang lebih sempit dari pada pendidikan atau dapat dikatakan ta`lîm bagian dari pendidikan. Kata tarbiyah yang digunakan sekarang di negera-negara Arab atau dalam bubku-buku yang berbahasa Araab  dinilai lebih  luas cakupannya. Sebab kata tarbiyah juga dipergunakan untuk binatang  dan tumbuh-tumbuhan dengan arti memelihara, membela, menternak dan lain-lain. Pengembangan makna tarbiyah sekarang dinilai terpengaruh makna education dari Latin, karena hakekatnya mencerminkan konsep Barat dalam pendidikan[2]. Demikian juga kata ta’dîb pada umumnya lebih banyak  dipergunakan pada pendidikan yang bersifat ketramilan lahir yakni latihan dan ketrampilan. Ia berasal dari kata adab, yang berarti etika, sopan santun dan budi pekerti lebih tepat diartikan mengajarkan adab atau diartikan memberi pelajaran atau hukuman.
Ibnu Miskawaih sebagai pelopor Tahdzib banyak berbicara tentang pendidikan agama dan akhlak di dalam beberapa bukunya di antaranya sebagaimana di atas yaitu  secara eksplisit diberi nama “Tahdzîb al-Akhlâq wa Tathhîr al-A`râq”. Buku inilah kemudian menjadi referensi para ahli didik lain dalam pendidikan agama Islam termasuk al-Ghazali (505 H/1111 M) sendiri dalam bukunya al-Ihyâ’ `ulûm al-Dîn menurut  Ibn  al-Khathîb dalam mukaddimah buku tersebut. Ibn Miskawaih mempunyai peran penting dalam membangun pendidikan agama Islam sejak awal Islam baik dari segi konsep-konsep pendidikan, filsafat yang mendasari pemikiran pendidikan maupun dalam termin pendidikan yang digunakan di dunia Islam. Selayaknya Tahdzîb Ibn Miskawaih  menjadi kiblat bagi ahli didik generasi pendidikan berikutnya. Artikel yang sederhana ini akan mengungkap makna Tahdzib dalam pendidikan agama Islam dan konsep pendidikan menurut Ibn Miskawaih dalam  Tahdzibnya.

B.  Pengertian Tahdzib

Tahdzîb salah satu ungkapan bahasa Arab yang pada umumnya diartikan “pendidikan” sinonim dari tarbiyah, ta’lîm dan ta’dîb. Tahdzib berasal dari akar kata : هذّب يهذّب تهذيبا  artinya  latihaan, pengajaran, pendidikan dan kebersihan. Pelakunya disebut Muhadzdzib = pelatih, pengajar atau guru/dosen sedangkan seorang yang terlatih atau terdidik disebut Muhadzdzab[3].  Kata Tahdzib adalah suatu ungkapan kata  yang menunjuk kepada sesuatu yang bersih dari cacat atau sifat-sifat buruk, dia seakar kata dengan al-Ihdzâb yang diartikan lari atau terbang dengan cepat. Maksudnya sesuatu yang tidak  terkena cacat atau terkait cacat akan dapat terbang dengan cepat atau dapat hidup dengan stabil. Jadi muhadzdzab adalah sesuatu yang tidak terkait cacat[4]  yang memiliki sifat-sifat terpuji.
Kata Tahdzib memang tidak didapatkan dalam al-Qur’an, tetapi dalam Hadits Nabi dan di berbagai kitab   berbahasa Arab banyak dijumpainya terutama dalam buku-buku akhlak dan Tashawuf. Dalam kitab Hadits al-Bukhari kata Tahdzib ditemukan 2 tempat dan di Musnad Ahmad 3 tempat di antaranya sebagaimana berikut  :
عن أبي سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْلُصُ الْمُؤْمِنُونَ مِنْ النَّارِ فَيُحْبَسُونَ عَلَى قَنْطَرَةٍ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ فَيُقَصُّ لِبَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضٍ مَظَالِمُ كَانَتْ بَيْنَهُمْ فِي الدُّنْيَا حَتَّى إِذَا هُذِّبُوا وَنُقُّوا أُذِنَ لَهُمْ فِي دُخُولِ الْجَنَّةِ فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَأَحَدُهُمْ أَهْدَى بِمَنْزِلِهِ فِي الْجَنَّةِ مِنْهُ بِمَنْزِلِهِ كَانَ فِي الدُّنْيَا (البخاري)
Artinya : Dar Abi Sa’id al-Khudrî ra berkata : Rasulullah saw bersabda : “Orang-orang mukmin selamat daari neraka kemudian ditahan di qantharah (suatu tempat bernama qantharah) antara surga dan neraka dibalas segala penganiayaan   sebagian merejka kepada sebagian  yang telah mereka perbuat di dunia sehingga setelah mereka dibersihkan dari segala dosa diizinkan kepada mereka masuk surga. Demi Dzat jiwa Muhammad di bawah kekuasaan-Nya sungguh salah satu di antara mereka lebih mengetahui tempat tinggalnya dalam surga bagaikan tempat tinggalnya di dunia”. (HR al-Bukhari)
Hadits ini menjelaskan bahwa setiap orang mukmin akan dapat masuk surga setelah dibersihkan dari segala  kesalahan dan kezaliman yang dilakukan di dunia. Mereka diberi kesempatan untuk menyelesaikan  penyaniayaan  yang pernah dilakukan ketika di dunia dengan cara qishas (pembalasan setimpal dengan  penganiayaan) di suatu tempat antara surga dan neraka yang disebut Qantharah. Tahdzib  bermakna upaya membersihkan segala bentuk penganiayaan  yang telah dilakukan sehingga menjadi bersih jiwanya dan inilah di antara tujuan pendidikan yang utama yakni agar jiwa seseorang menjadi bersih dengan  terbinanya sifat-sifat yang baik dan terhindarkan dari sifat-sifat yang tercela.
Kata Tahdzib dipakai para ilmuan dalam menunjuk berbagai bidang ilmu, dipergunakan  dalam nama berbagai buku dan  dalam berbagai redaksi kalimat di antarnya sebagai berikut :
 Dalam bidang pendidikan bapak Tahdzib Ibnu Miskawaih memberi judul bukunya  Tahdzîb al-Akhlâq… berarti pendidikan akhlak. Al-Ghazali dalam kitab Ihyâ-nya  menggunakan kata tahdzib di berbagai tempat antara lain ; kata tahdzîb al-akhlâq menjadi sub bab dan penjelasannya[5] kadang-kadang menggunakan kata kerja (fi`il mudhâri`) seperti  yuhadzdzibuh wa yu`allimuh  berarti mendidik dan mengajarnya[6].  al-Ghazali terkadang menghubungkan kata tahdzîb pada kata nafs (jiwa) yakni … in kânat (al-naf) zakiyyatan thâhiratan muhadzdzabatan…, jika jiwa itu bening, suci dan bersih….[7] Demikian juga beberapa buku pendidikan Islam berbahasa Arab banyak menyebut kata Tahdzib seperti buku al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Falasifatiha yang ditulis oleh Muhammad `Athiyah al-Abrasyi.
Dalam bidang Imu Hadits Ibn Hajar al`Asqalânî (w. 852 H) menulis kitab Tahdzîb al-Tahdzîb merupakan summary al-Tahdzîb karya al-Mizzî (w. 742 H) yang merupakan summary juga  dari  al-Kamâl fi Asmâ’ al-Rijâl karya al-Maqdîsî (w. 660 H). Kitab-kitab tersebut bagian dari Ilmu al-Jarh wa al-Ta`dîl penilaian para periwayat Hadits yang memiliki kredibelitas yang tinggi dalam keadilan dan ke-dhabith-an (daya ingat yang amat tinggi) dan sebaliknya periwayat Hadits yang cacat tidak memiliki dua atau salah satu dari sifat tersebut.
Dalam buku Fikih akar  kata Tahdzib juga dipergunakan nama sebuah kitab besar yaitu al-Muhadzdzab lengkapnya al-Muhadzdzab fî Fiqh Madzhab al-Imam al-Syaâfi`î  karya Abi Ishak Ibrahim bin `Ali yang dikenal al-Syairâzî  kemudian      di-syarah-kan oleh al-Nawawî menjadi Syarh al-Muhadzdzab. Tahdzib di sini lebih tepat diartikan resume Fikh madzhab al-Syafi`i  secara singkat. Atau dapat disederhanakan penyaringan dari berbagai pendapat  para ulama Fikih madzhab Syafi`i.    
Dalam bidang pemikiran modern kata Tahdzib juga dijadikan nama sebuah majalah ternama yang terbit di India pada abad 19 pimpinan Sir Ahmad Khan dengan nama Tahdzîb al- Akhlâq. Majalah modernis memuat artikel-artikel Sir Ahmad Khan yang dihimpun oleh Syeikh Muhammad Ismail[8]
Dari berbagai uraian di atas Tahdzib berarti pendidikan agama dalam berbagai bidang dan  lapangan seperti  al-Qur’an, Hadits, Tauhid, akhlak, Fikih, Sejarah, latihan, ketrampilan dan lain-lain. Jika kata Tahdzib selalu dihubungkan dengan pendidikan akhlak dan jiwa, karena ia lebih menekankan kapada pendidikan akhak. Pendidikan akhlak inilah yang menjadi tujuan utama dalam  pendidikan agama. Oleh karena itu sebagian ahli menterjemahkan Tahdzib identik dengan pendidikan agama karena keduanya mempunyai target yang sama yaitu terbentuknya kepribadian muslim yakni akhlaq al-karîmah. Sesuai dengan pengertian pendidikan agama Islam itu sendiri yaitu  bimbingan atau pertolongan  secara sadar yang dilakukan oleh sipendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani siterdidik ke arah kedewasaan menuju terbentuknya kepribadian  muslim[9]
Pembentukan  moral yang tinggi adalah tujuan utama dari pendidikan agama Islam. Para ulama dan sarjana-sarjana pendidikan muslim dengan penuh perhatian  telah berusaha menanamkan akhlak mulia dan sifat-sifat utama pada jiwa siswa, membiasakan akhlak  sifat-sifat utama dan menghindarkan  sifat-sifat yang rendah, dan berpikir secara rohani dan kemanusiaan tanpa memandang keuntungan materi[10] Siapa saja yang membaca tulisan para filosuf muslim tentang  pendidikan Islam pasti selalu melihat bahwa   pendidikan akhlak adalah tujuan utama dari pendidikan agama dan bagi mereka  ilmu untuk ilmu (science to science). Pendidikan agama Islam yang mengutamakan segi akhlak dan moral tidak berarti mengabaikan pendidikan mental, jasmani, matematika, ilmu social dan jurusan-jurusan prakatis, sehingga dengan demikian pendidikan  Islam adalah pendidikan yang paling paripurna.
 

C.  Biografi Singkat  Bapak Tahdzib
Nama lengkap Ibn Miskawaih adalah Abu Ali  Ahmad bin Muhammad bin Ya’kub Miskawaih, lahir di Raiy Teheran   tahun  320 H/932 M dan meninggal pada tahun 421 H/1030 M. Julukannya al-Khazin berarti pustakawan atau bendaharawan. Julukan ini diberikan karena ia mendapat kepercayaan dari `Adhdu al-Daulah untuk menjaga perpustakaan  di samping penyimpan rahasia dan menjadi utusan  ke berbagai pihak yang dikeghendaki. Pekerjaan utama Ibnu Miskawaih adalah bendaharawan, sekretaris, pustakawan dan pendidik anak para pemuka dinasti Buwaihi. Selain  akrab dengan penguasa Ibnu Miskawaih juga  banyak bergaul dengan ilmuan  seperti Abu Hayan, Yahya Ibn  ‘Ady dan Ibn Sina
Ibnu Miskawaui  seorang filosuf Islam yang mula-mula  membicarakan pendidikan akhlak.  Sebenarnya banyak sekali  bidang ilmu yang ditekuninya, tetapi ia lebih dikenal  sebagai seorang ahli  dalam filsafat etika dan sejarah. Hal ini  disebabkan karya-karyanya  yang terkenal dalam bidang akhlak seperti Tahdzîb al-Akhlâq wa Tathhîr al-A`râq  dan al-Fawzu al-Ashghar. Pengetahuannya yang menonjol  dalam bidang etika atau akhlak menyebabkan ia memperoleh gelar “Bapak (Tahdzib) Etika Islam”. Bagaimanapun kita patut memuji  secara umum  usaha Ibn Miskawaih  dalam mengajukan suatu system etika yang harus berrsih dari casuistry kaum moralis dan asmetisme kaum sufi, tetapi juga patut mengakui  dalam pelaksanaan maksudnya itu adanya rasa baik  dari seorang yang luas kultur dan budayanya[11]
  Pengaruh etikanya yang menonjol  terlihat misalnya pada Ihyâ `Ulûm al-Dîn karya al-Ghazalî (505 H/1111 M). Ibn al-Khathib dalam Mukaddimahnya menyebutkan, bahwa setelah ia membaca kitab Tahdzîb al-Akhlâq bab demi bab dan dihubungkan dengan kitab Ihyâ `Ulûm al-Dîn berkesimpulan bahwa al-Ghazali bereferensi pada kitab Ibn Mislawaih tersebut.

D.  Filsafat Landasan Tahdzib
Ibn Miskawaih membagi  filsafat menjadi dua bagian yaitu teoritis dan praktis. Falsafat teoritis adalah  kesempurnaan manusia yang mengisi  potensinya untuk  dapat mengetahui segala sesuatu ( al-quwwah al-`âlimah)  berarti cenderung kepada pengetahuan dan ilmu. Dengan kesempurnaan ilmu ini pikiran  manusia dan keyakinannya menjadi benar dan tidak ragu-ragu terhadap kebenaran. Sedangkan filsafat praktis merupakan  kesempurnaan manusia  yang mengisi potensinya  untuk dapat melakukan perbuatan-perbuatan moral (al-quwwah al-`amaliyah).  Ia cenderung mengorganisasikan dan mensistematikan segala sesuatu  sehingga menjadi kesempurnaan moral. Jika manusia berhasil mengkompromikan kedua bagian tersebut, berarti  memperoleh kebahagiaan yang sempurna[12]. Bagian teoritis  memeperoleh kesempurnaan  intelektual kognitif dan bagian praktis  mencapai kesempurnaan peribadi.
Ada tiga filsafat  yang dijadikan landasan Tahdzib Ibn Miskawaih, yaitu sebagai berikut :

1.       Filsafat Manusia
Menurut Ibn Miskawaih, manusia  berdasarkan tabiatnya dibagi menjadi 3 kelompok  yaitu sebagai berikut :
a.       Manusi baik, yaitu  manusia yang bertabiat baik sejak mula dan tidak berubah  menjadi jahat
b.      Manusi jahat, yaitu manusia  yang bertabiat jahat  sejak mula dan ia tidak berubah menjadi baik.
c.       Manusia dalam posisi tengah tidak baik dan tidak jahat, yaitu manusia yang bertabiat antara baik dan jahat, ada baik dan ada jahatnya. Kelompok ini bisa berubah menjadi baik atau menjadi buruk karena faktor pendidikan dan lingkungan[13]
Dari pengelompokan di atas dapat disimpulkan bahwa Ibn Miskawaih dalam filsafat Tahdzîbnya mengakui  adanya potensi  atau kemampuan dasar tabi’i yang dimiliki  manusia yang kemudian dapat berubah karena pengaruh pendidikan dan lingkungan baik secara internal maupun  eksternal. Filsafat ini mendekati  teori konvergensi yang dicetuskan oleh  W. Stern.
 Dalam kaitannya dengan intelektualitas manusia, Ibn Miskawaih membaginya menjadi 4 tingkatan yaitu sebagai berikut :
a.       Manusia hewan, yaitu manusia primitif yang tinggal di daerah pelosok-pelosok  terpencil, derajatnya lebih tinggi dari kera.
b.      Manusi indrawi, yaitu manusia yang sudah mampu memahami dan membedakan sesuatu karena peradabannya yang lebih maju, tetapi mereka masih terkungkung oleh kemampuan inderawinya.
c.       Manusi intelektual, yaitu manusia yang dengan akalnya telah mampu berupaya menemukan  keutamaan (fadhîlah)
d.      Manusia filosuf, yaitu manusia dengan akalnya mampu menyentuh awal alam malaikat. Tingkatan terakhir ini adalah tingkatan yang tertinggi di antara tingkatan-tingiatan di atas yaitu setingkat Nabi[14].  
Ibnu Miskawaih telah memperkenalkan teori evolusi  dalam perkembangan pola pikir manusia  mulai dari yang terendah yaitu manusia prmitif atau manusia hewan yang belum mampu menggunakan akal pikirnya sampai dengan tingkatan  tertinggi yaitu manusia filosuf  yang mampu menemukan rahasia-rahasia alam. Setiap manusia mempunyai kesempatan menuju ke tingkat  yang lebih tinggi sesuai dengan tabiat uyang dilikinya. 

2.      Filsafat  Jiwa
   Ibn Miskawaih membagi  jiwa menjadi 3 bagian, yaitu sebagai berikut :
a.       Jiwa rasional (al-nafs al-nâthiqah), yaitu jiwa yang memiliki daya berpikir. Ia memiliki  kekuatan daya berpikir  dan melihat fakta  dengan menggunakan otak
b.      Jiwa binatang buas ( al-nafs al-sabu’iyah), yaitu jiwa yang memiliki daya marah (al-quwa gadhabîyah). Ia berani mengambil resiko, ambisi kekuasaan, kedudukan dan kehormatan.
c.       Jiwa binatang (al-nafs al-bahîmîyah), yaitu jiwa yang  memiliki daya gairaah dan nafsu (al-quwa al-syahwatiyah) seperti hewan, misalnya makan, minum, seksual dan segala kenikmatan indrawi lain[15]
  Dari ketiga jiwa di atas jiwa pertama jiwa rasional  yang paling utama. Manusia menjadi paling sempurna apabila  memiliki keunggulan jiwa rasionalnya dan manusia  turun derajatnya jika jiwanya didominasi dua jiwa berikutnya yakni jiwa sabu’iyah dan bahîmmiyah.
 
3.      Filsafat Akhlak
 Teori dasar akhlak Ibn Miskawaih adalah teori pertengahan (al-tawassuth atau al-wasath). Posisi pertengahan ini muncul dari  3 daya yaitu al-nathiqah ( rasional), al-ghadhabiyah (emosional) dan al-syahwiyah ( kesenangan). Ketumaan akhlak  secara umum diartikan  posisi tengah antara dua sifat ekstrim, antara sifat lebih dan sifat kurang dari masing-masing jiwa. Tiga daya di atas menghasilkan sifat utama (fadhîlah) yang merupakan posisi tengah yaitu  al-hikmah (bijaksana), al-`iffah (memelihara harga diri ), al-syajâ’ah (keberanian) dan al-‘adâlah (keadilan). Keempat  sifat utama akhlak  tersebut adalah menjadi pokok segala keutamaan asedangkan yang lain adalah cabangnya yang berjumlah banyak sekali dan pemahamnnya sesuai dengan perkembangan zaman[16]. Menurut Ibn Miskawaih setiap keutamaan  berada di posisi pertengahan antara dua sifat ekstrim, yang tengah terpuji dan yangh ekstrim tercela. Posisi tengah di sini standar umum atau perinsip umum yangh berlaku bagi manusia. Posisi tengahj inio disebut al-khathth al-mustaqîm (garis lurus )[17].
      Sebagaimana sifat keutamaan yang pokok di atas ada empat, sifat  tercela yang pokok menurutnya ada delapan yaitu al-safh ( kelancangan), al-balah (kedunguan), al-syarah ( rakus), al-khumûd (dingin hati), al-tahawwur ( nekad), al-jubn (pengecut), al-jaur (aniaya), al-inzhilâm (teraniaya)[18]. Sifat-sifat tercela ini  bersifat ekstrim tidak di posisi pertengahan, baik ekstrim kanan maupun ekstrim kiri, ekstrim kebaikan dan keburukan dan seterusnya.

E.  Konsep Pendidikan  Tahdzib


1.         Karakter anak didik
      Salah satu tema yang mendasar dalam pendidikan adalah apakah manusia dapat didik ? Untuk menjawab pertanyaan ini Ibn Miskawaih  dalam Tahdzîbnya berbicara tentang karakter atau al-Khuluq. Menurutnya karakter adalah  sebagai suatu keadaan jiwa  yang menyebabkan jiwa bertindak tanpa dipikir dan dipertimbangkan terlebih dahulu. Keadaan jiwa karakter ini ada dua macam yaitu  sebagaui berikut :
a.       Karakter yang bersumber dari temperament seperti  sifat pada seseorang individu yang mudah terpengaruh oleh sesuatu hal yang sederhana, misalnya, seseorang takut pada sesuatu  yang tidak layak ditakuti.
b.      Karakter yang lahir  dan diperoleh melalui  kebiasaan dan latihan. Hal ini terkadang  pada mulanya  telah dipertimbangkan, tetapi kemudian  menjadi karakter setelah melalui praktek dan latihan  secara kontinew.[19]
Tahdzib  mengakui bahwa karakter itu alami, namun ia dapat berubah baik secara cepat maupun lambat. Karakter berubah sesuai dengan  realitas yang ada. Jika karakter tidak dapat berubah, maka kekuatan rasio (al-aql) dan daya pembeda (al-tamyîz) akan dikesampingkan, segala norma dan bimbingan tak ada manfaatnya. Manusia dalam perubahan karakternya mempunyai beberapa tingkatan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya sejak awal. Di antara mereka ada yang siap menerima perubahan karakter dan di antara mereka ada yang enggan menerima perubahan, ada karakter yang  keras dan ada yang lembut unak dan seterusnya. Jika tabiat  seperti  di atas dibiarkan tanpa dikoreksi selamanya ia akan mengikuti tabiat  yang demikian dan berbuat sesuai dengan selera alamnya.[20]
Dari  keterangan di atas dapat disimpulkana bahwa manusia dapat dididik sesuai dengan kehendak arah dan tujuan si pendidik, karakter manusia dapat dibimbing, diarahkan dan dirubah    di samping telah memiliki potensi karakter yang dibawa sejak lahir  sesuai dengan teori konvergensi. Sejalan dengan pandangannya bahwa manusia adalah makhluk yang mempunyai keistemewaan mulia karena pikirannya, maka pendidikan adalah ssesuatu hal yang wajib dilaksanakan. Tanpa pendidikan nalar manusia  tidak akan berfungsi  sebagaimana yang ddiharapkan dan ia tidak dapat menjalankan syariat Islam dengan baik.

2.Landasan Pendidikan
a.       Syariat agama
Syariat agama merupakan factor penentu bagi lurusnya karakter manusia agar menjadi terbiasa melakukan  perbuatan-perbuatan terpuji dan siap menerima al-hikmah dan al-fadlîlah sehinghga  memeperoleh kebahagiaan  berdasarkan penalaran  yang akurat dan studi komparasi yang tepat. Di sini tersirat bahwa  landasan pokok bagi usaha pendidikan adalah syariat agama. Lebih penting lagi setiap pendidik dalam upaya pendidikannya harus mengetahui syariat  agana sebagaimana ia harus menjalankannya.
b.      Jiwa manusia
Pendidikan erat hubungannya dengan pengetahuan jiwa. Agar karakter manusia mampu memunculkan  perbuatan-perbuatan yang baik harus ada rekayasa, pendidikan, pengajaran dan pengarahan yang sistematis. Itu semua tidak akan tercapai kecuali  dengan mengetahui jiwa terlebih dahulu apa dan bagaimana jiwa itu  dan untuk apa ia diciptakan  pada diri manusia. Jika jiwa ini dipergunakan dengan layak dan terbina dengan baik manusia akan sampai kepada tujuan yang tertinggi lagi mulia. Pengetahuan mengenai jiwa  merupakan landasan pokok bagi pelaksaaan pendidikan. Pendidikan tanpa mengetahui jiwa/psikologi merupakan pekerjaan  tanpa landasan yang sia-sia.
        
3. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan yang ingin dicapai Tahdzib adalah  terbentuknya pribadi  yang berakhlak mulia yang disebutkan ishâbat al-khuluq al-syarîf.  Pribadi mulia  adalah kemuliaan  substansial dan esensial bukan kemuliaan  temporal dan aksidental seperti pribadi materialis dan otokratis. Kemuliaan manusia terletak pada jiwa rasionalnya, pembentukan pribadi  yang berakhlak mulia  terletak bagaimana  menjadikan jiwa rasionalnya unggul dan dapat menetralisir jiwa-jiwa lainnya. Di sini terlihat tujuam yang diinginkan Tahdzib bertendensi pada idealistic spiritual, di mana rumusan manusia ideal adalah manusia yang berkemanusiaan bukan kemanusiaan tunggal.
Sisi lain manusia yang ingin dicapai  melalui pendidikan dalam Tahdzib adalah  manusia yang baik, bahagia dan sempurna  sesuai dengan kecenderungan sebagai manusia  yang cenderung kepada hal tersebut dan sekaligus ingin memilikinya. Kebaikan, kebahagiaan dan kesempurnaan yang dimaksud  berkaitan dengan akhlak. 

4.Penanggung Jawab Pendidikan
Penanggung jawab pendidikan dalam Tahdzib adalah orang tua, guru/dosen atau filosuf, pemuka masyarakat dan pemerintah sebagai penguasa. Murid dalam bahasa Ibn Miskawaih disebut tilmîdz atau thâlib, namun keduanya mempunyai pertautan yang berbeda. Tilmîdz  dihubungkan dengan guru/mu`allim sedangkan thâlib berhubungan dengan Hakim. Murid  yang menjadi subyek pendidikan  adalah semua orang yang memerlukan  bimbingan, bantuan dan latihan, baik berupa  ilmu pengetahuan maupun ketrampilan  dan lainnya untuk mengembangkan  dirinya sebagai  individu, anggota masyarakat dan hamba Tuhan yang sempurna.  
Guru atau filosuf  dalam tanggung jawabnya disebut penguasa ruhani ( walî ruhanî )   atau disebut  pendidik manusia ( rabb basyarî )  sedangkan kebaikannya disebut manusia Tuhan  (insan ilâhî).  Alasannya,  guru atau filosuf mendidik sifat keutamaan yang sempurna ( al-fadlîlah al-tâmmah) pada murid dengan metode kearifan yang tepat ( al-hikmah al-bâlighah) dan mengarahkannya  kepada kehidupan yang abadi (al-hayât al-abadîyah)  dalam kenikmatan yang kekal (al-na`îm al-sarmadî). Guru adalah penyebab eksisitensi intelektual murid.[21]

5.      Fungsi Pendidikan
Fungsi pendidikan adalah menanamkan akhlak mulia dan memanusiakan manusia. Tugas pendidikan adalah  menundukkan manusia  sesuai dengan substansinya sebagai  makhluk  termulia dan supaya lahirlah manusia yang bertingkah laku  yang sesuai dengan kesempurnaan substansi tersebut dan hakekat kemanusiaannya. Di samping itu pendidikan harus mengangkat  martabat manusia  dari tingkat yang terendah yang menyebabkan kutukan Tuhan dan masuk ke dalam nereka menuju ke tingkat yang lebih tertinggi, mencari rida Allah dan masuk ke dalam surga-Nya. Pembinaan  bidang kemanusiaan  dalam bentuk pendidikan  kepribadian adalah pekerjaan  yang paling mulia.

6.Materi Pendidikan
Ilmu terbagi menjadi dua kelompok yakni ilmu-ilmu mulia ( al-`lûm al-syarîfah) dan ilmu-ilmu terhina (al-`ulûm al-radî’ah). Dalam pembagian  lain ilmu terbagi menjadi dua yaitu   ilmu-ilmu pemikiran (al-`ulûm al-fikrîyah) dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan indra (al-`ulûm al-hissîyah). Martabat ilmu  sesuai dengan substansi  dari obyek ilmu yang ada di alam ini. Ilmu-ilmu tentang manusia dan yang berhubungan dengan manusia  lebih utama dari ilmu-ilmu tentang hewan dan ilmu tentang hewan lebih utama  dari pada ilmu tentang benda-benda mineral.
 
7.Metode Pendidikan
Metode pendidikan yang ditawarkan Tahdzib adalah metode alami, nasihat, tuntunan, ancaman, hardikan, pukulan atau hukuman, sanjungan atau hadiah. Dalam penerapannya harus diperhatikan asas-asas pendidikan seperti asas bertahap, perbedaan, kesiapan, katauladanan, kebebasan, aktivitas, keadilan, cinta dan persahabatan serta pembiasaan dan pengulangan.
 

F.  Kesimpulan

Tahdzib pada mulanya memiliki  makna pendidikaan akhlak dan berkaitan dengan jiwa dalam pembentukan pribadi, tetapi kemudian diartikan pendidikan agama karena tujuan pokok dari pendidikn agama adalah pembentukan akhlak. Pendidikan agama adalah konsentrasi Tahdzib yang meliputi seluruh bidang studi agama dan metodologinya dalam pengajaran terhadap anak-anak didik.
Manusia mempunyai dua potensi yaitu potensi  mengetahui dan potensi untuk berbuat. Keduanya berkembang secara evolutif dan dapat dipengaruhi dengan pendidikan. Manusia sejak lahir juga sudah membawa karakter secara alami dan karakter ini akan berkembang sesuai dengan pengaruh pendidikan dan miliau sekitarnya. Sesuai dengan posisi daya manusia yang berada di tengah-tengah di antara  tiga daya jiwa yakni jiwa rasional, emosional dan  syahwat manusia dengan keunggulan jiwa rasionalnya mampu meraih sifat-sifat keutamaan. 
Pendidikan  harus dasarkan pada agama dan jiwa manusia itu sendiri, sehingga tujuan pendidikan  terarah pada pembentukan akhlak yang mulia. Akhlak mulia adalah sifat-sifat utama yang dimiliki oleh anak didik, yaitu sifat pertengahan antara dua sifat yang kontra secara ekstrimis. Segala upaya pendidikan dilakukan secara bertahap baik materi keilmuannya maupun metodologisnya.   Konsep pendidikan Tahdzib yang ditawarkan Ibnu Miskawaih merupakan dasar-dasar penddidikan agama yang dikembangkan oleh para ahli didik generasi berikutnya dan pada masa modern.

 


Dafatar Pustaka

al-Abrasyî, Muhamamd Athiyah, al-Tarbiyah al-Islâmiyah wa Falâsifatuha, Beirut : Dâr al-Fikr, tth., Cet. Ke-2
Asari, Hasan, Menyingkap Zaman Keemasan Islam, Kajian Atas Lembaga-Lembaga endidikan Islam, Bandung : Mizan, 1994
Al-Attas, Muhammad al-Nuqaib, Konsep Pendidikan dalam Islam : Suatu Rangka Pikir Pembinaan Filsata Pendidikan Islam, terjemahan Haidar Baqir, Bandung : Mizan, 1994
Amin, Ahmad, Fajr al-Islâm,  Cairo: al-Nahdlah al-Mishrîyah, 1975, Cet. Ke-2Barnadib, Imam : Kearah Perspektif Baru Pendidikan, Jakarta : PPLPTK, 1988Boswort, C.E. et. al. The Ensyclopedi of Islam, New Edition, Vol. VII, Leiden New York : E.J. Brill, 1993
Chaplin C.P., Kamus Lengkap  Psikologi, terjemahan Kartini Katrtono, Jakarta : Raja Wali Press, 1989
De Boer T.J., The History of Philosophy in Islam, New York : Dover Publications Inc., tt.
Ghazali, Muhammad bin Muhammad, (w. 505 H), Ihyâ’ `Ulûm al-Dîn, Beirut : Dâr al-Fkir, tth.
Ibn Faris, Ab al-Husain Ahmad, al-Maqâyîs fi al-Lughah, Beirut : Dâr al-Fikr, 1994
Ibnu Miskawaih, Tahdzîb al-Akhlak wa Tathhîr al-A`râq, Mesir : Maktabah  al-Ma`arif, 1329 H
 ------, Menuju Kesempurrnaan Akhlak, terjemahan Helmi Hidayat, Bandung : Mizan, 1999
-------,  al-Fawz al-Ashghar, tahqîq Abd  al-Fattâh Ahmad Fuad, Dar al-Kitâb, 1974
------, An Unpublishee Treatice of Miskawaih on Justice or Risâlah fi Mâhiyah al-`Adl li Miskawaih, terjemahan dan editor m.S. Khan, Leiden : EJ. Brill, 1`964
Izzat, Abd al-Azîz, Ibn Miskawaih, Mesir : Mushtrhafa al-Halabi,  1946
Al-Lughah al-`Arabiyah, Majma’, al-Mu’jam al-Wajîz, Mesir : al-hay’ah al-`Ammah li Syu’ûn al-Mathâbi’ al-Amîriyah, 1997-1998
Al-Marbawî, M Idris Abd al-Raûf,  Kamus Idris al-Marbawî, Singapur : Pustaka Nsional, tth.
Marimba, Ahmad D., Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung : PT al-Ma’arif, 1974, Cet. Ke-4
Najsy, Khâdim Husayn Ilâhî, al-Qur’ânîyûn wa Syubuhâtuhum Hawla al-Sunnah,  Thaif: Maktabah al-Shiddîq, 1989, Cet. Ke-1


[1] *Penulis adalah Dosen Universitas Islam Jakarta, dapat dihubungi melalui e-mail: majid_khon@yaho.co.id

[2] Al-Attas, Muhammad al-Nuqaib, Konsep Pendidikan dalam Islam : Suatu Rangka Pikir Pembinaan Filsata Pendidikan Islam, terjemahan Haidar Baqir, Bandung : Mizan, 1994, hlm.  65.
[3]Al-Marbawî, M Idris Abd al-Raûf,  Kamus Idris al-Marbawî, Singapur : Pustaka Nsional, tth. hlm. 363
[4]Ibn Faris, Ab al-Husain Ahmad, al-Maqâyîs fi al-Lughah, Beirut : Dâr al-Fikr, 1994, hlm. 1068
[5] Ghazali, Muhammad bin Muhammad, (w. 505 H), Ihyâ’ `Ulûm al-Dîn Juz III, Beirut : Dâr al-Fkir, tth. hlm. 48 – 61
[6] Ibid, hlm. 72
[7] Ibid, hlm. 61
[8] Lihat Najsy, Khâdim Husayn Ilâhî, al-Qur’ânîyûn wa Syubuhâtuhum Hawla al-Sunnah,  Thaif: Maktabah al-Shiddîq, 1989
[9] A. D. Marimba,  Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung : PT al-Ma’arif, 1974 hlm.  33
[10] Muhamamd Athiyah al-Abrasyî, Al-Tarbiyah al-Islâmiyah wa Falâsifatuha, Beirut : Dâr al-Fikr, tth. hlm. 30
[11]De Boer T.J., The History of Philosophy in Islam, New York : Dover Publications Inc., tt. hlm. 131
[12]Ibnu Miskawaih, Tahdzîb al-Akhlak wa Tathhîr al-A`râq, Mesir : Maktabah  al-Ma`arif, 1329 H, hlm. 47 -49
[13]Ibid , hlm.  39-41
[14] Ibid. hlm. 84
[15]Ibid., hlm. 18-19 dan 35-40
[16] Ibid, hlm. 29 – 31
[17] Ibid, hlm. 46
[18] Ibid., hlm. 31 – 35
[19] Ibid., hlm. 37
[20] Ibid, hlm. 37 – 42
[21] Ibid. hlm. 175