DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Abstract :
The word “Tahdzib” that is
made the tittle of some books in
sciences, means morals and religion education substantively. It indicates that
morals and religion education were in so many sciences, either theorotics
or practices. The mankind have two potentialities are
knowing potentiality and doing potentiality that is brought
since be born. Both of them can
change and expand according to education influence and its environment.
According to the mankind spirit power
position that was in the middle of three spirit powers, are rational spirit,
emotional spirit and lust spirit, they are
able to achieve superiority characteristic with their superiority of
rational spirit. The superiority
characteristic are the
middle characteristics between
contradictive characteristics, among of them generous characteristic is
between squander and stingy, dare is
between determined and afraid, atc. The achievement of this superiority characteristics is the main purpose at religion education, that is noble morals
formation.
Kata konci : Tahdzib, pendidikan Agama Islam
A. Pendahuluan
Sebagaimana dimaklumi belakangan
ini di lingkungan Jurusan Pendidikan
Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayuatullah Jakarta kata Tahdzib menjadi sebuah nama Jurnal Jurusan
PAI, yang baru lahir perdananya 6
bulan lalu yakni awal tahun 2007 M/ 1428
H. Tahdzib -- dalam arti harfiahnya
adalah pendidikan agama Islam atau pendidikan akhlak -- sebenarnya
Tahdzib ini sudah dikenal sejak lama dalam dunia pendidikan bukan saja
nama Jurnal baru tersebut. Ia telah dikenal sejak pendidikan agama Islam klasik
yang pelopori oleh Ibn Miskawaih (421 H/1030 M) dalam bukunya yang berjudul “Tahdzîb
al-Akhlâq wa Tathhîr al-A`râq”.
Tetapi sayangnya sosialisasi penggunaan
kata Tahdzib (Bahasa Arab) dalam menunjujk makna pendidikan Islam kurang
popular khususnya di Indonesia. Berbagai buku pendidikan agama Islam yang
ditulis para ahli didik Islam yang beredar
sangat langka menyebut kata
Tahdzib. Mereka lebih suka menyebut “tarbiyah, ta`lîm dan ta’dîb dalam
menunjuk pendidikan Islam ke dalam bahasa Arab katimbang kata tahdzîb
ini.
Menurut mereka kata ta’lim untuk
menunjuk makna pendidikan kurang tepat karena ia berarti pengajaran yang lebih
sempit dari pada pendidikan atau dapat dikatakan ta`lîm bagian dari
pendidikan. Kata tarbiyah yang digunakan sekarang di negera-negara Arab
atau dalam bubku-buku yang berbahasa Araab
dinilai lebih luas cakupannya.
Sebab kata tarbiyah juga dipergunakan untuk binatang dan tumbuh-tumbuhan dengan arti memelihara,
membela, menternak dan lain-lain. Pengembangan makna tarbiyah sekarang dinilai
terpengaruh makna education dari Latin, karena hakekatnya mencerminkan
konsep Barat dalam pendidikan[2]. Demikian juga kata ta’dîb pada
umumnya lebih banyak dipergunakan pada
pendidikan yang bersifat ketramilan lahir yakni latihan dan ketrampilan. Ia
berasal dari kata adab, yang berarti etika, sopan santun dan budi
pekerti lebih tepat diartikan mengajarkan adab atau diartikan memberi pelajaran
atau hukuman.
Ibnu Miskawaih sebagai pelopor Tahdzib
banyak berbicara tentang pendidikan agama dan akhlak di dalam beberapa bukunya
di antaranya sebagaimana di atas yaitu
secara eksplisit diberi nama “Tahdzîb al-Akhlâq wa Tathhîr al-A`râq”.
Buku inilah kemudian menjadi referensi para ahli didik lain dalam pendidikan
agama Islam termasuk al-Ghazali (505 H/1111 M) sendiri dalam bukunya al-Ihyâ’
`ulûm al-Dîn menurut Ibn al-Khathîb dalam mukaddimah buku tersebut.
Ibn Miskawaih mempunyai peran penting dalam membangun pendidikan agama Islam
sejak awal Islam baik dari segi konsep-konsep pendidikan, filsafat yang
mendasari pemikiran pendidikan maupun dalam termin pendidikan yang digunakan di
dunia Islam. Selayaknya Tahdzîb Ibn Miskawaih
menjadi kiblat bagi ahli didik generasi pendidikan berikutnya. Artikel
yang sederhana ini akan mengungkap makna Tahdzib dalam pendidikan agama Islam
dan konsep pendidikan menurut Ibn Miskawaih dalam Tahdzibnya.
B. Pengertian Tahdzib
Tahdzîb salah satu ungkapan bahasa Arab yang
pada umumnya diartikan “pendidikan” sinonim dari tarbiyah, ta’lîm dan ta’dîb.
Tahdzib berasal dari akar kata : هذّب يهذّب تهذيبا artinya latihaan, pengajaran, pendidikan dan
kebersihan. Pelakunya disebut Muhadzdzib = pelatih, pengajar atau
guru/dosen sedangkan seorang yang terlatih atau terdidik disebut Muhadzdzab[3]. Kata Tahdzib adalah suatu ungkapan kata yang menunjuk kepada sesuatu yang bersih dari
cacat atau sifat-sifat buruk, dia seakar kata dengan al-Ihdzâb yang
diartikan lari atau terbang dengan cepat. Maksudnya sesuatu yang tidak terkena cacat atau terkait cacat akan dapat
terbang dengan cepat atau dapat hidup dengan stabil. Jadi muhadzdzab
adalah sesuatu yang tidak terkait cacat[4]
yang memiliki sifat-sifat terpuji.
Kata Tahdzib memang tidak didapatkan
dalam al-Qur’an, tetapi dalam Hadits Nabi dan di berbagai kitab berbahasa Arab banyak dijumpainya terutama
dalam buku-buku akhlak dan Tashawuf. Dalam kitab Hadits al-Bukhari kata Tahdzib
ditemukan 2 tempat dan di Musnad Ahmad 3 tempat di antaranya sebagaimana
berikut :
عن أبي سَعِيدٍ
الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْلُصُ الْمُؤْمِنُونَ مِنْ النَّارِ فَيُحْبَسُونَ عَلَى
قَنْطَرَةٍ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ فَيُقَصُّ لِبَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضٍ
مَظَالِمُ كَانَتْ بَيْنَهُمْ فِي الدُّنْيَا حَتَّى إِذَا هُذِّبُوا
وَنُقُّوا أُذِنَ لَهُمْ فِي دُخُولِ الْجَنَّةِ فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ
بِيَدِهِ لَأَحَدُهُمْ أَهْدَى بِمَنْزِلِهِ فِي الْجَنَّةِ مِنْهُ بِمَنْزِلِهِ
كَانَ فِي الدُّنْيَا (البخاري)
Artinya :
Dar Abi Sa’id al-Khudrî ra berkata : Rasulullah saw bersabda : “Orang-orang
mukmin selamat daari neraka kemudian ditahan di qantharah (suatu tempat bernama
qantharah) antara surga dan neraka dibalas segala penganiayaan sebagian merejka kepada sebagian yang telah mereka perbuat di dunia sehingga
setelah mereka dibersihkan dari segala dosa diizinkan kepada mereka masuk
surga. Demi Dzat jiwa Muhammad di bawah kekuasaan-Nya sungguh salah satu di
antara mereka lebih mengetahui tempat tinggalnya dalam surga bagaikan tempat
tinggalnya di dunia”. (HR al-Bukhari)
Hadits ini
menjelaskan bahwa setiap orang mukmin akan dapat masuk surga setelah
dibersihkan dari segala kesalahan dan
kezaliman yang dilakukan di dunia. Mereka diberi kesempatan untuk menyelesaikan penyaniayaan
yang pernah dilakukan ketika di dunia dengan cara qishas
(pembalasan setimpal dengan
penganiayaan) di suatu tempat antara surga dan neraka yang disebut Qantharah.
Tahdzib bermakna upaya membersihkan
segala bentuk penganiayaan yang telah
dilakukan sehingga menjadi bersih jiwanya dan inilah di antara tujuan
pendidikan yang utama yakni agar jiwa seseorang menjadi bersih dengan terbinanya sifat-sifat yang baik dan
terhindarkan dari sifat-sifat yang tercela.
Kata Tahdzib
dipakai para ilmuan dalam menunjuk berbagai bidang ilmu, dipergunakan dalam nama berbagai buku dan dalam berbagai redaksi kalimat di antarnya
sebagai berikut :
Dalam bidang pendidikan bapak Tahdzib Ibnu
Miskawaih memberi judul bukunya Tahdzîb
al-Akhlâq… berarti pendidikan akhlak. Al-Ghazali dalam kitab Ihyâ-nya menggunakan kata tahdzib di berbagai tempat
antara lain ; kata tahdzîb al-akhlâq menjadi sub bab dan penjelasannya[5] kadang-kadang
menggunakan kata kerja (fi`il mudhâri`) seperti yuhadzdzibuh wa yu`allimuh berarti mendidik dan mengajarnya[6]. al-Ghazali terkadang menghubungkan kata tahdzîb
pada kata nafs (jiwa) yakni … in kânat (al-naf) zakiyyatan thâhiratan
muhadzdzabatan…, jika jiwa itu bening, suci dan bersih….[7] Demikian juga beberapa
buku pendidikan Islam berbahasa Arab banyak menyebut kata Tahdzib seperti buku
al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Falasifatiha yang ditulis oleh Muhammad `Athiyah
al-Abrasyi.
Dalam bidang
Imu Hadits Ibn Hajar al`Asqalânî (w. 852 H) menulis kitab Tahdzîb al-Tahdzîb
merupakan summary al-Tahdzîb karya al-Mizzî (w. 742 H) yang merupakan
summary juga dari al-Kamâl fi Asmâ’ al-Rijâl karya
al-Maqdîsî (w. 660 H). Kitab-kitab tersebut bagian dari Ilmu al-Jarh wa
al-Ta`dîl penilaian para periwayat Hadits yang memiliki kredibelitas yang
tinggi dalam keadilan dan ke-dhabith-an (daya ingat yang amat tinggi)
dan sebaliknya periwayat Hadits yang cacat tidak memiliki dua atau salah satu
dari sifat tersebut.
Dalam buku
Fikih akar kata Tahdzib juga
dipergunakan nama sebuah kitab besar yaitu al-Muhadzdzab lengkapnya al-Muhadzdzab
fî Fiqh Madzhab al-Imam al-Syaâfi`î karya Abi Ishak Ibrahim bin `Ali yang dikenal
al-Syairâzî kemudian di-syarah-kan oleh
al-Nawawî menjadi Syarh al-Muhadzdzab. Tahdzib di sini lebih
tepat diartikan resume Fikh madzhab al-Syafi`i
secara singkat. Atau dapat disederhanakan penyaringan dari berbagai
pendapat para ulama Fikih madzhab
Syafi`i.
Dalam bidang
pemikiran modern kata Tahdzib juga dijadikan nama sebuah majalah ternama yang
terbit di India pada abad 19 pimpinan Sir Ahmad Khan dengan nama Tahdzîb al-
Akhlâq. Majalah modernis memuat artikel-artikel Sir Ahmad Khan yang
dihimpun oleh Syeikh Muhammad Ismail[8]
Dari berbagai uraian di atas Tahdzib
berarti pendidikan agama dalam berbagai bidang dan lapangan seperti al-Qur’an, Hadits, Tauhid, akhlak, Fikih,
Sejarah, latihan, ketrampilan dan lain-lain. Jika kata Tahdzib selalu
dihubungkan dengan pendidikan akhlak dan jiwa, karena ia lebih menekankan
kapada pendidikan akhak. Pendidikan akhlak inilah yang menjadi tujuan utama
dalam pendidikan agama. Oleh karena itu
sebagian ahli menterjemahkan Tahdzib identik dengan pendidikan agama karena
keduanya mempunyai target yang sama yaitu terbentuknya kepribadian muslim yakni
akhlaq al-karîmah. Sesuai dengan pengertian pendidikan agama Islam itu
sendiri yaitu bimbingan atau
pertolongan secara sadar yang dilakukan
oleh sipendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani siterdidik ke arah
kedewasaan menuju terbentuknya kepribadian
muslim[9]
Pembentukan moral yang tinggi adalah tujuan utama dari pendidikan
agama Islam. Para ulama dan sarjana-sarjana pendidikan muslim dengan penuh
perhatian telah berusaha menanamkan
akhlak mulia dan sifat-sifat utama pada jiwa siswa, membiasakan akhlak sifat-sifat utama dan menghindarkan sifat-sifat yang rendah, dan berpikir secara
rohani dan kemanusiaan tanpa memandang keuntungan materi[10] Siapa saja yang membaca tulisan para
filosuf muslim tentang pendidikan Islam
pasti selalu melihat bahwa pendidikan
akhlak adalah tujuan utama dari pendidikan agama dan bagi mereka ilmu untuk ilmu (science to science).
Pendidikan agama Islam yang mengutamakan segi akhlak dan moral tidak berarti
mengabaikan pendidikan mental, jasmani, matematika, ilmu social dan
jurusan-jurusan prakatis, sehingga dengan demikian pendidikan Islam adalah pendidikan yang paling
paripurna.
C. Biografi Singkat Bapak Tahdzib
Nama lengkap Ibn Miskawaih
adalah Abu Ali Ahmad bin Muhammad bin
Ya’kub Miskawaih, lahir di Raiy Teheran
tahun 320 H/932 M dan meninggal
pada tahun 421 H/1030 M. Julukannya al-Khazin berarti pustakawan atau
bendaharawan. Julukan ini diberikan karena ia mendapat kepercayaan dari `Adhdu
al-Daulah untuk menjaga perpustakaan di
samping penyimpan rahasia dan menjadi utusan
ke berbagai pihak yang dikeghendaki. Pekerjaan utama Ibnu Miskawaih
adalah bendaharawan, sekretaris, pustakawan dan pendidik anak para pemuka
dinasti Buwaihi. Selain akrab dengan
penguasa Ibnu Miskawaih juga banyak
bergaul dengan ilmuan seperti Abu Hayan,
Yahya Ibn ‘Ady dan Ibn Sina
Ibnu Miskawaui seorang filosuf Islam yang mula-mula membicarakan pendidikan akhlak. Sebenarnya banyak sekali bidang ilmu yang ditekuninya, tetapi ia lebih
dikenal sebagai seorang ahli dalam filsafat etika dan sejarah. Hal
ini disebabkan karya-karyanya yang terkenal dalam bidang akhlak seperti Tahdzîb
al-Akhlâq wa Tathhîr al-A`râq dan
al-Fawzu al-Ashghar. Pengetahuannya yang menonjol dalam bidang etika atau akhlak menyebabkan ia
memperoleh gelar “Bapak (Tahdzib) Etika Islam”. Bagaimanapun kita patut
memuji secara umum usaha Ibn Miskawaih dalam mengajukan suatu system etika yang
harus berrsih dari casuistry kaum moralis dan asmetisme kaum sufi, tetapi juga
patut mengakui dalam pelaksanaan
maksudnya itu adanya rasa baik dari
seorang yang luas kultur dan budayanya[11]
Pengaruh etikanya yang menonjol terlihat misalnya pada Ihyâ `Ulûm al-Dîn
karya al-Ghazalî (505 H/1111 M). Ibn al-Khathib dalam Mukaddimahnya
menyebutkan, bahwa setelah ia membaca kitab Tahdzîb al-Akhlâq bab demi
bab dan dihubungkan dengan kitab Ihyâ `Ulûm al-Dîn berkesimpulan bahwa
al-Ghazali bereferensi pada kitab Ibn Mislawaih tersebut.
D. Filsafat Landasan Tahdzib
Ibn Miskawaih membagi filsafat menjadi dua bagian yaitu teoritis
dan praktis. Falsafat teoritis adalah
kesempurnaan manusia yang mengisi
potensinya untuk dapat mengetahui
segala sesuatu ( al-quwwah al-`âlimah)
berarti cenderung kepada pengetahuan dan ilmu. Dengan kesempurnaan ilmu
ini pikiran manusia dan keyakinannya
menjadi benar dan tidak ragu-ragu terhadap kebenaran. Sedangkan filsafat
praktis merupakan kesempurnaan
manusia yang mengisi potensinya untuk dapat melakukan perbuatan-perbuatan
moral (al-quwwah al-`amaliyah).
Ia cenderung mengorganisasikan dan mensistematikan segala sesuatu sehingga menjadi kesempurnaan moral. Jika manusia
berhasil mengkompromikan kedua bagian tersebut, berarti memperoleh kebahagiaan yang sempurna[12]. Bagian teoritis memeperoleh kesempurnaan intelektual kognitif dan bagian praktis mencapai kesempurnaan peribadi.
Ada tiga filsafat yang dijadikan landasan Tahdzib Ibn
Miskawaih, yaitu sebagai berikut :
1. Filsafat Manusia
Menurut Ibn Miskawaih, manusia berdasarkan tabiatnya dibagi menjadi 3
kelompok yaitu sebagai berikut :
a. Manusi baik, yaitu manusia yang bertabiat baik sejak mula dan
tidak berubah menjadi jahat
b. Manusi jahat, yaitu
manusia yang bertabiat jahat sejak mula dan ia tidak berubah menjadi baik.
c. Manusia dalam posisi tengah
tidak baik dan tidak jahat, yaitu manusia yang bertabiat antara baik dan jahat,
ada baik dan ada jahatnya. Kelompok ini bisa berubah menjadi baik atau menjadi
buruk karena faktor pendidikan dan lingkungan[13]
Dari pengelompokan di atas dapat
disimpulkan bahwa Ibn Miskawaih dalam filsafat Tahdzîbnya mengakui adanya potensi atau kemampuan dasar tabi’i yang dimiliki manusia yang kemudian dapat berubah karena
pengaruh pendidikan dan lingkungan baik secara internal maupun eksternal. Filsafat ini mendekati teori konvergensi yang dicetuskan oleh W. Stern.
Dalam kaitannya dengan intelektualitas
manusia, Ibn Miskawaih membaginya menjadi 4 tingkatan yaitu sebagai berikut :
a. Manusia hewan, yaitu manusia
primitif yang tinggal di daerah pelosok-pelosok
terpencil, derajatnya lebih tinggi dari kera.
b. Manusi indrawi, yaitu manusia
yang sudah mampu memahami dan membedakan sesuatu karena peradabannya yang lebih
maju, tetapi mereka masih terkungkung oleh kemampuan inderawinya.
c. Manusi intelektual, yaitu
manusia yang dengan akalnya telah mampu berupaya menemukan keutamaan (fadhîlah)
d. Manusia filosuf, yaitu
manusia dengan akalnya mampu menyentuh awal alam malaikat. Tingkatan terakhir
ini adalah tingkatan yang tertinggi di antara tingkatan-tingiatan di atas yaitu
setingkat Nabi[14].
Ibnu Miskawaih telah memperkenalkan
teori evolusi dalam perkembangan pola
pikir manusia mulai dari yang terendah
yaitu manusia prmitif atau manusia hewan yang belum mampu menggunakan akal
pikirnya sampai dengan tingkatan
tertinggi yaitu manusia filosuf
yang mampu menemukan rahasia-rahasia alam. Setiap manusia mempunyai
kesempatan menuju ke tingkat yang lebih
tinggi sesuai dengan tabiat uyang dilikinya.
2. Filsafat Jiwa
Ibn
Miskawaih membagi jiwa menjadi 3 bagian,
yaitu sebagai berikut :
a. Jiwa rasional (al-nafs
al-nâthiqah), yaitu jiwa yang memiliki daya berpikir. Ia memiliki kekuatan daya berpikir dan melihat fakta dengan menggunakan otak
b. Jiwa binatang buas ( al-nafs
al-sabu’iyah), yaitu jiwa yang memiliki daya marah (al-quwa gadhabîyah).
Ia berani mengambil resiko, ambisi kekuasaan, kedudukan dan kehormatan.
c. Jiwa binatang (al-nafs
al-bahîmîyah), yaitu jiwa yang
memiliki daya gairaah dan nafsu (al-quwa al-syahwatiyah) seperti
hewan, misalnya makan, minum, seksual dan segala kenikmatan indrawi lain[15]
Dari ketiga jiwa di atas jiwa pertama jiwa rasional yang paling utama. Manusia menjadi paling
sempurna apabila memiliki keunggulan
jiwa rasionalnya dan manusia turun
derajatnya jika jiwanya didominasi dua jiwa berikutnya yakni jiwa sabu’iyah
dan bahîmmiyah.
3. Filsafat Akhlak
Teori dasar akhlak Ibn Miskawaih adalah teori
pertengahan (al-tawassuth atau al-wasath). Posisi pertengahan ini muncul
dari 3 daya yaitu al-nathiqah (
rasional), al-ghadhabiyah (emosional) dan al-syahwiyah (
kesenangan). Ketumaan akhlak secara umum
diartikan posisi tengah antara dua sifat
ekstrim, antara sifat lebih dan sifat kurang dari masing-masing jiwa. Tiga daya
di atas menghasilkan sifat utama (fadhîlah) yang merupakan posisi tengah
yaitu al-hikmah (bijaksana), al-`iffah
(memelihara harga diri ), al-syajâ’ah (keberanian) dan al-‘adâlah
(keadilan). Keempat sifat utama
akhlak tersebut adalah menjadi pokok
segala keutamaan asedangkan yang lain adalah cabangnya yang berjumlah banyak
sekali dan pemahamnnya sesuai dengan perkembangan zaman[16]. Menurut Ibn Miskawaih setiap
keutamaan berada di posisi pertengahan
antara dua sifat ekstrim, yang tengah terpuji dan yangh ekstrim tercela. Posisi
tengah di sini standar umum atau perinsip umum yangh berlaku bagi manusia.
Posisi tengahj inio disebut al-khathth al-mustaqîm (garis lurus )[17].
Sebagaimana
sifat keutamaan yang pokok di atas ada empat, sifat tercela yang pokok menurutnya ada delapan
yaitu al-safh ( kelancangan), al-balah (kedunguan), al-syarah
( rakus), al-khumûd (dingin hati), al-tahawwur ( nekad), al-jubn
(pengecut), al-jaur (aniaya), al-inzhilâm (teraniaya)[18]. Sifat-sifat tercela ini bersifat ekstrim tidak di posisi pertengahan,
baik ekstrim kanan maupun ekstrim kiri, ekstrim kebaikan dan keburukan dan
seterusnya.
E. Konsep Pendidikan Tahdzib
1.
Karakter
anak didik
Salah
satu tema yang mendasar dalam pendidikan adalah apakah manusia dapat didik ?
Untuk menjawab pertanyaan ini Ibn Miskawaih
dalam Tahdzîbnya berbicara tentang karakter atau al-Khuluq.
Menurutnya karakter adalah sebagai suatu
keadaan jiwa yang menyebabkan jiwa
bertindak tanpa dipikir dan dipertimbangkan terlebih dahulu. Keadaan jiwa
karakter ini ada dua macam yaitu
sebagaui berikut :
a. Karakter yang bersumber dari
temperament seperti sifat pada seseorang
individu yang mudah terpengaruh oleh sesuatu hal yang sederhana, misalnya,
seseorang takut pada sesuatu yang tidak
layak ditakuti.
b. Karakter yang lahir dan diperoleh melalui kebiasaan dan latihan. Hal ini terkadang pada mulanya
telah dipertimbangkan, tetapi kemudian
menjadi karakter setelah melalui praktek dan latihan secara kontinew.[19]
Tahdzib
mengakui bahwa karakter itu alami, namun ia dapat berubah baik secara
cepat maupun lambat. Karakter berubah sesuai dengan realitas yang ada. Jika karakter tidak dapat
berubah, maka kekuatan rasio (al-aql) dan daya pembeda (al-tamyîz) akan
dikesampingkan, segala norma dan bimbingan tak ada manfaatnya. Manusia dalam
perubahan karakternya mempunyai beberapa tingkatan sesuai dengan pertumbuhan
dan perkembangannya sejak awal. Di antara mereka ada yang siap menerima
perubahan karakter dan di antara mereka ada yang enggan menerima perubahan, ada
karakter yang keras dan ada yang lembut
unak dan seterusnya. Jika tabiat
seperti di atas dibiarkan tanpa
dikoreksi selamanya ia akan mengikuti tabiat
yang demikian dan berbuat sesuai dengan selera alamnya.[20]
Dari
keterangan di atas dapat disimpulkana bahwa manusia dapat dididik sesuai
dengan kehendak arah dan tujuan si pendidik, karakter manusia dapat dibimbing,
diarahkan dan dirubah di samping telah
memiliki potensi karakter yang dibawa sejak lahir sesuai dengan teori konvergensi. Sejalan
dengan pandangannya bahwa manusia adalah makhluk yang mempunyai keistemewaan
mulia karena pikirannya, maka pendidikan adalah ssesuatu hal yang wajib
dilaksanakan. Tanpa pendidikan nalar manusia
tidak akan berfungsi sebagaimana
yang ddiharapkan dan ia tidak dapat menjalankan syariat Islam dengan baik.
2.Landasan Pendidikan
a. Syariat agama
Syariat agama merupakan
factor penentu bagi lurusnya karakter manusia agar menjadi terbiasa
melakukan perbuatan-perbuatan terpuji
dan siap menerima al-hikmah dan al-fadlîlah sehinghga memeperoleh kebahagiaan berdasarkan penalaran yang akurat dan studi komparasi yang tepat.
Di sini tersirat bahwa landasan pokok
bagi usaha pendidikan adalah syariat agama. Lebih penting lagi setiap pendidik
dalam upaya pendidikannya harus mengetahui syariat agana sebagaimana ia harus menjalankannya.
b. Jiwa manusia
Pendidikan erat hubungannya
dengan pengetahuan jiwa. Agar karakter manusia mampu memunculkan perbuatan-perbuatan yang baik harus ada
rekayasa, pendidikan, pengajaran dan pengarahan yang sistematis. Itu semua
tidak akan tercapai kecuali dengan
mengetahui jiwa terlebih dahulu apa dan bagaimana jiwa itu dan untuk apa ia diciptakan pada diri manusia. Jika jiwa ini dipergunakan
dengan layak dan terbina dengan baik manusia akan sampai kepada tujuan yang
tertinggi lagi mulia. Pengetahuan mengenai jiwa
merupakan landasan pokok bagi pelaksaaan pendidikan. Pendidikan tanpa
mengetahui jiwa/psikologi merupakan pekerjaan
tanpa landasan yang sia-sia.
3. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan yang ingin dicapai
Tahdzib adalah terbentuknya pribadi yang berakhlak mulia yang disebutkan ishâbat
al-khuluq al-syarîf. Pribadi
mulia adalah kemuliaan substansial dan esensial bukan kemuliaan temporal dan aksidental seperti pribadi materialis
dan otokratis. Kemuliaan manusia terletak pada jiwa rasionalnya, pembentukan
pribadi yang berakhlak mulia terletak bagaimana menjadikan jiwa rasionalnya unggul dan dapat
menetralisir jiwa-jiwa lainnya. Di sini terlihat tujuam yang diinginkan Tahdzib
bertendensi pada idealistic spiritual, di mana rumusan manusia ideal adalah
manusia yang berkemanusiaan bukan kemanusiaan tunggal.
Sisi lain manusia yang ingin
dicapai melalui pendidikan dalam Tahdzib
adalah manusia yang baik, bahagia dan
sempurna sesuai dengan kecenderungan
sebagai manusia yang cenderung kepada
hal tersebut dan sekaligus ingin memilikinya. Kebaikan, kebahagiaan dan
kesempurnaan yang dimaksud berkaitan dengan
akhlak.
4.Penanggung Jawab Pendidikan
Penanggung jawab pendidikan dalam
Tahdzib adalah orang tua, guru/dosen atau filosuf, pemuka masyarakat dan
pemerintah sebagai penguasa. Murid dalam bahasa Ibn Miskawaih disebut tilmîdz
atau thâlib, namun keduanya mempunyai pertautan yang berbeda.
Tilmîdz dihubungkan dengan guru/mu`allim
sedangkan thâlib berhubungan dengan Hakim. Murid yang menjadi subyek pendidikan adalah semua orang yang memerlukan bimbingan, bantuan dan latihan, baik
berupa ilmu pengetahuan maupun
ketrampilan dan lainnya untuk
mengembangkan dirinya sebagai individu, anggota masyarakat dan hamba Tuhan
yang sempurna.
Guru atau filosuf dalam tanggung jawabnya disebut penguasa
ruhani ( walî ruhanî ) atau disebut
pendidik manusia ( rabb basyarî ) sedangkan kebaikannya disebut manusia
Tuhan (insan ilâhî). Alasannya, guru atau filosuf mendidik sifat keutamaan
yang sempurna ( al-fadlîlah al-tâmmah) pada murid dengan metode
kearifan yang tepat ( al-hikmah al-bâlighah) dan mengarahkannya kepada kehidupan yang abadi (al-hayât
al-abadîyah) dalam kenikmatan yang
kekal (al-na`îm al-sarmadî). Guru adalah penyebab eksisitensi
intelektual murid.[21]
5. Fungsi Pendidikan
Fungsi pendidikan adalah menanamkan
akhlak mulia dan memanusiakan manusia. Tugas pendidikan adalah menundukkan manusia sesuai dengan substansinya sebagai makhluk
termulia dan supaya lahirlah manusia yang bertingkah laku yang sesuai dengan kesempurnaan substansi
tersebut dan hakekat kemanusiaannya. Di samping itu pendidikan harus
mengangkat martabat manusia dari tingkat yang terendah yang menyebabkan
kutukan Tuhan dan masuk ke dalam nereka menuju ke tingkat yang lebih tertinggi,
mencari rida Allah dan masuk ke dalam surga-Nya. Pembinaan bidang kemanusiaan dalam bentuk pendidikan kepribadian adalah pekerjaan yang paling mulia.
6.Materi Pendidikan
Ilmu terbagi menjadi dua kelompok yakni
ilmu-ilmu mulia ( al-`lûm al-syarîfah) dan ilmu-ilmu terhina (al-`ulûm
al-radî’ah). Dalam pembagian lain
ilmu terbagi menjadi dua yaitu
ilmu-ilmu pemikiran (al-`ulûm al-fikrîyah) dan ilmu-ilmu yang
berkaitan dengan indra (al-`ulûm al-hissîyah). Martabat ilmu sesuai dengan substansi dari obyek ilmu yang ada di alam ini.
Ilmu-ilmu tentang manusia dan yang berhubungan dengan manusia lebih utama dari ilmu-ilmu tentang hewan dan
ilmu tentang hewan lebih utama dari pada
ilmu tentang benda-benda mineral.
7.Metode Pendidikan
Metode pendidikan yang ditawarkan
Tahdzib adalah metode alami, nasihat, tuntunan, ancaman, hardikan, pukulan atau
hukuman, sanjungan atau hadiah. Dalam penerapannya harus diperhatikan asas-asas
pendidikan seperti asas bertahap, perbedaan, kesiapan, katauladanan, kebebasan,
aktivitas, keadilan, cinta dan persahabatan serta pembiasaan dan pengulangan.
F. Kesimpulan
Tahdzib pada mulanya memiliki makna pendidikaan akhlak dan berkaitan dengan
jiwa dalam pembentukan pribadi, tetapi kemudian diartikan pendidikan agama
karena tujuan pokok dari pendidikn agama adalah pembentukan akhlak. Pendidikan
agama adalah konsentrasi Tahdzib yang meliputi seluruh bidang studi agama dan
metodologinya dalam pengajaran terhadap anak-anak didik.
Manusia mempunyai dua potensi yaitu
potensi mengetahui dan potensi untuk
berbuat. Keduanya berkembang secara evolutif dan dapat dipengaruhi dengan
pendidikan. Manusia sejak lahir juga sudah membawa karakter secara alami dan
karakter ini akan berkembang sesuai dengan pengaruh pendidikan dan miliau
sekitarnya. Sesuai dengan posisi daya manusia yang berada di tengah-tengah di
antara tiga daya jiwa yakni jiwa
rasional, emosional dan syahwat manusia
dengan keunggulan jiwa rasionalnya mampu meraih sifat-sifat keutamaan.
Pendidikan harus dasarkan pada agama dan jiwa manusia
itu sendiri, sehingga tujuan pendidikan
terarah pada pembentukan akhlak yang mulia. Akhlak mulia adalah
sifat-sifat utama yang dimiliki oleh anak didik, yaitu sifat pertengahan antara
dua sifat yang kontra secara ekstrimis. Segala upaya pendidikan dilakukan
secara bertahap baik materi keilmuannya maupun metodologisnya. Konsep pendidikan Tahdzib yang ditawarkan
Ibnu Miskawaih merupakan dasar-dasar penddidikan agama yang dikembangkan oleh
para ahli didik generasi berikutnya dan pada masa modern.
Dafatar Pustaka
al-Abrasyî, Muhamamd Athiyah,
al-Tarbiyah al-Islâmiyah wa Falâsifatuha, Beirut : Dâr al-Fikr, tth.,
Cet. Ke-2
Asari, Hasan, Menyingkap
Zaman Keemasan Islam, Kajian Atas Lembaga-Lembaga endidikan Islam, Bandung
: Mizan, 1994
Al-Attas, Muhammad al-Nuqaib,
Konsep Pendidikan dalam Islam : Suatu Rangka Pikir Pembinaan Filsata
Pendidikan Islam, terjemahan Haidar Baqir, Bandung : Mizan, 1994
Amin, Ahmad, Fajr al-Islâm, Cairo: al-Nahdlah al-Mishrîyah, 1975, Cet.
Ke-2Barnadib, Imam : Kearah Perspektif Baru Pendidikan, Jakarta :
PPLPTK, 1988Boswort, C.E. et. al. The Ensyclopedi of Islam, New Edition,
Vol. VII, Leiden New York : E.J. Brill, 1993
Chaplin C.P., Kamus Lengkap Psikologi, terjemahan Kartini Katrtono,
Jakarta : Raja Wali Press, 1989
De Boer T.J., The History
of Philosophy in Islam, New York : Dover Publications Inc., tt.
Ghazali, Muhammad bin
Muhammad, (w. 505 H), Ihyâ’ `Ulûm al-Dîn, Beirut : Dâr al-Fkir, tth.
Ibn Faris, Ab al-Husain
Ahmad, al-Maqâyîs fi al-Lughah, Beirut : Dâr al-Fikr, 1994
Ibnu Miskawaih, Tahdzîb
al-Akhlak wa Tathhîr al-A`râq, Mesir : Maktabah al-Ma`arif, 1329 H
------, Menuju Kesempurrnaan Akhlak,
terjemahan Helmi Hidayat, Bandung : Mizan, 1999
-------, al-Fawz al-Ashghar, tahqîq Abd al-Fattâh Ahmad Fuad, Dar al-Kitâb, 1974
------, An Unpublishee
Treatice of Miskawaih on Justice or Risâlah fi Mâhiyah al-`Adl li Miskawaih, terjemahan
dan editor m.S. Khan, Leiden : EJ. Brill, 1`964
Izzat, Abd al-Azîz, Ibn
Miskawaih, Mesir : Mushtrhafa al-Halabi,
1946
Al-Lughah
al-`Arabiyah, Majma’, al-Mu’jam al-Wajîz, Mesir : al-hay’ah al-`Ammah li
Syu’ûn al-Mathâbi’ al-Amîriyah, 1997-1998
Al-Marbawî, M Idris Abd
al-Raûf, Kamus Idris al-Marbawî,
Singapur : Pustaka Nsional, tth.
Marimba, Ahmad D., Pengantar
Filsafat Pendidikan Islam, Bandung : PT al-Ma’arif, 1974, Cet. Ke-4
Najsy, Khâdim Husayn Ilâhî, al-Qur’ânîyûn
wa Syubuhâtuhum Hawla al-Sunnah,
Thaif: Maktabah al-Shiddîq, 1989, Cet. Ke-1
[1] *Penulis adalah Dosen
Universitas Islam Jakarta, dapat dihubungi melalui e-mail: majid_khon@yaho.co.id
[2] Al-Attas, Muhammad al-Nuqaib, Konsep Pendidikan dalam Islam :
Suatu Rangka Pikir Pembinaan Filsata Pendidikan Islam, terjemahan Haidar
Baqir, Bandung
: Mizan, 1994, hlm. 65.
[3]Al-Marbawî, M Idris Abd al-Raûf,
Kamus Idris al-Marbawî, Singapur : Pustaka Nsional, tth. hlm. 363
[4]Ibn Faris, Ab al-Husain Ahmad, al-Maqâyîs fi al-Lughah, Beirut : Dâr al-Fikr,
1994, hlm. 1068
[5] Ghazali, Muhammad bin Muhammad, (w. 505 H), Ihyâ’ `Ulûm al-Dîn
Juz III, Beirut
: Dâr al-Fkir, tth. hlm. 48 – 61
[6] Ibid, hlm. 72
[7] Ibid, hlm. 61
[8] Lihat Najsy, Khâdim Husayn
Ilâhî, al-Qur’ânîyûn wa Syubuhâtuhum Hawla al-Sunnah, Thaif: Maktabah al-Shiddîq, 1989
[9] A. D. Marimba, Pengantar
Filsafat Pendidikan Islam, Bandung
: PT al-Ma’arif, 1974 hlm. 33
[10] Muhamamd Athiyah al-Abrasyî, Al-Tarbiyah al-Islâmiyah wa
Falâsifatuha, Beirut
: Dâr al-Fikr, tth. hlm. 30
[11]De Boer T.J., The History of Philosophy in Islam, New York : Dover
Publications Inc., tt. hlm. 131
[12]Ibnu Miskawaih, Tahdzîb al-Akhlak wa Tathhîr al-A`râq, Mesir
: Maktabah al-Ma`arif, 1329 H, hlm. 47
-49
[13]Ibid , hlm. 39-41
[14] Ibid. hlm. 84
[15]Ibid., hlm. 18-19 dan 35-40
[16] Ibid, hlm. 29 – 31
[17] Ibid, hlm. 46
[18] Ibid., hlm. 31 – 35
[19] Ibid., hlm. 37
[20] Ibid, hlm. 37 – 42
[21] Ibid. hlm. 175










